Loading

Masih

0
http://www.malibu62studio.com

Malibu 62 Studio diresmikan pada tanggal 25 Februari 1994, bertempat Jl. Raya Barat Boulevard Blok LC VII No. 62 Kelapa Gading Permai Jakarta 14240, yang kemudian menjadi kantor pusat Malibu 62 Studio. Melalui pengamatan pasar yang jeli, dilengkapi dengan serangkaian survei yang cermat lahirlah kesimpulan adanya peluang pasar yang masih belum terjamah para pelaku Bisnis Fotografi, yaitu kalangan remaja. Pada saat itu belum ada studio yang benar-benar dapat memenuhi keinginan dan selera remaja yang sekaligus dapat dijadikan wadah penyaluran bakat dan hobby bagi mereka untuk berfoto dengan harga terjangkau namun bermutu tinggi.

Filed under Business Opportunities by on . Comment#

0
http://lp3i.ac.id

Fenomena tidak tertampungnya lulusan pendidikan tinggi, terutama yang bergelar sarjana, di dunia kerja bukan cerita milik era tahun 2000-an saja. Bila dirunut ke belakang, sebenarnya gejala tersebut sudah mulai muncul ke permukaan sekitar duapuluhan tahun sebelumnya. Semakin hari semakin meresahkan masyarakat yang mengalaminya langsung. Namun hingga menjelang akhir 1980-an, belum ada tanda-tanda pihak yang merasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah tersebut, baik pemerintah maupun swasta. Semua masih yakin bahwa model pendidikan yang dijalankan (oleh perguruan tinggi) pada saat itu masih yang terbaik. Tapi ternyata ada juga sekelompok generasi muda berpikiran maju yang berpendapat lain. Kelompok ini, yang dimotori oleh M. Syahrial Yusuf, merasa bahwa ada kesenjangan antara pendidikan dengan dunia kerja dan masalah ini harus segera diantisipasi. Harus ada pendidikan yang dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan dunia kerja.

Filed under Education Franchises by on . Comment#

0
http://www.buburqu.com

Sejak awal, Koko memang berniat mengembangkan gerainya dengan model franchise. Semangat mengelola bisnis dengan sistem franchise, berkobar-kobar di dalam dadanya setelah ia mengikuti program di Enterpreneur University (EU) besutan Purdi E Chandra. “EU memang banyak mengubah mental saya dalam menjalankan bisnis,” Kata Koko.

Melalui sistem franchise ini, gerai Bubur’Qu kini bisa ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Perkembangan gerai Bubur’Qu, bisa dibilang cepat. Sejak kehadirannya akhir tahun 2006, kini gerainya telah mencapai di atas angka 30 cabang. “Dalam waktu dekat kami akan segera membuka di Jakarta dan Jawa Barat”. Bubur’Qu sengaja menyasar kalangan menengah. Dengan harga kisaran rata-rata Rp 5-6 ribu, pasti akan terjangkau oleh mereka yang memang memiliki kegemaran makan bubur. Harga ini tentu relatif masih murah, apalagi untuk ukuran kota besar seperti Surabaya, Jakarta atau Denpasar. Gerai Bubur’Qu dikelola dengan beragam bentuk, ada yang model tenda ada juga yang model resto yang bertempat di ruko maupun mall tergantung minat franchisee.

Filed under Food Franchises by on . Comment#